Kamis, 18 Oktober 2012

CONTOH PERENCANAAN PROGRAM KEGIATAN KESEHATAN


I.         Pendahuluan
Pada awal tahun 2004 kita dikejutkan kembali dengan merebaknya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), dengan jumlah kasus yang cukup banyak. Hal ini mengakibatkan sejumlah rumah sakit menjadi kewalahan dalam menerima pasien DBD. Untuk mengatasinya pihak rumah sakit menambah tempat tidur di lorong-lorong rumah sakit serta merekrut tenaga medis dan paramedis. Merebaknya kembali kasus DBD ini menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan. Sebagian menganggap hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan dan sebagian lagi menganggap karena pemerintah lambat dalam mengantisipasi dan merespon kasus ini.
Sejak Januari sampai dengan 5 Maret tahun 2004 total kasus DBD di seluruh propinsi di Indonesia sudah mencapai 26.015, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang (CFR=1,53% ). Kasus tertinggi terdapat di Propinsi DKI Jakarta (11.534 orang) sedangkan CFR tertinggi terdapat di Propinsi NTT (3,96%). Pada tahun 2005 ada 159 kasus, 2006 sebanyak 116 kasus, tahun 2007 mencapai 264 kasus dan tahun 2009 sebanyak 399 kasus.
Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut.
Penyakit DBD sering salah didiagnosis dengan penyakit lain seperti flu atau tipus. Hal ini disebabkan karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD bisa bersifat asimtomatik atau tidak jelas gejalanya. Data di bagian anak RSCM menunjukkan pasien DBD sering menunjukkan gejala batuk, pilek, muntah, mual, maupun diare. Masalah bisa bertambah karena virus tersebut dapat masuk bersamaan dengan infeksi penyakit lain seperti flu atau tipus. Oleh karena itu diperlukan kejelian pemahaman tentang perjalanan penyakit infeksi virus dengue, patofisiologi, dan ketajaman pengamatan klinis. Dengan pemeriksaan klinis yang baik dan lengkap, diagnosis DBD serta pemeriksaan penunjang (laboratorium) dapat membantu terutama bila gejala klinis kurang memadai.
Penyakit DBD pertama kali di Indonesia ditemukan di Surabaya pada tahun 1968, akan tetapi konfirmasi virologis baru didapat pada tahun 1972. Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia kecuali Timor-Timur telah terjangkit penyakit. Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus menunjukkan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi KLB setiap tahun.
KLB DBD terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence Rate (IR) = 35,19 per 100.000 penduduk dan CFR = 2%. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17%, namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99 (tahun 2000); 21,66 (tahun 2001); 19,24 (tahun 2002); dan 23,87 (tahun 2003).
Meningkatnya jumlah kasus serta bertambahnya wilayah yang terjangkit, disebabkan karena semakin baiknya sarana transportasi penduduk, adanya pemukiman baru, kurangnya perilaku masyarakat terhadap pembersihan sarang nyamuk, terdapatnya vektor nyamuk hampir di seluruh pelosok tanah air serta adanya empat sel tipe virus yang bersirkulasi sepanjang tahun. Sedangkan nyamuk Aedes aegypti masih tersebar luas di pelosok tanah air kecuali di ketinggian > 1000 meter dari permukaan laut, masih banyak di ketemuinya jentik di rumah (30,5%), sekolah (31,5%), tempat-tempat umum (27,6%), sedangkan pengetahuan sikap perilaku terhadap DBD 53,3%.

II.      Tujuan
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan hidup sehat bagi setiap masyarakat agar terhindar dari penyakit DBD melalui terciptanya masyarakat yang hidup dengan perilaku dan lingkungan yang sehat terbatas dari penyakit DBD, serta memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu dan merata.


III.   Kebijaksanaan
Mengingat obat dan vaksin pencegah penyakit DBD hingga dewasa ini belum ada maka upaya pemberanyasan DBD dititik beratkan pada:
1.        Kewaspadaan dini terhadap penyakit DBD dengan melaksanakan surveilans vektor guna mencegah dan membatasi agar tidak terjadi KLB/wabah.
2.        Pemberantasan nyamuk penularnya
a.                                                     Nyamuk dewasa
b.                                                    Jentik

IV.   Strategi
Karena titik berat program pemberantasan penyakit DBD adalah penggerakan masyarakat melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD meliputi:
  1. Menyelanggarakan penyuluhan kepada masyarakat agar mampu secara mandiri mencegah penyakit DBD.
  2. Penggerakan masyarakat dalan pemberantasan sarang nyamuk DBD melalui kerjasama lintas program yang dikoordinasikan oleh kepala wilayah/daerah.
  3. Melakukan tindakan kewaspadaan dini kasus/KLB-DBD.
  4. Melaksanakan pengobatan/pertolongan penderita DBD di RS dan puskesmas.
  5. Menanggulangi secepatnya KLB-DBD agar penyebaran dapat dibatasi. 

V.      Sasaran, Waktu, Tempat Pelayanan, Dan Tenaga  Pelaksana.
  1. Sasaran
Sasaran adalah seluruh masyarakat di kelurahan Tobimeita dan Anggalo Melai kecamatan Abeli yang mempunyai faktor resiko tinggi terhadap penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue.

  1. Waktu Pelaksanaan
Kegiatan ini  dilaksanakan di kelurahan Tobimeita dan Anggalo Melai kecamatan Abeli selama 4 minggu pada tanggal 1-28 Desember 2011.

  1. Tempat Pelayanan
Program pemberantasan penyakit Demam Berdarah Dengue ini dengan menggunakan metode pemfogingan dan abatesasi yang dilaksanakan di seluruh kediaman warga Kelurahan Tobimeita dan anggolo Melai. Sedangkan tempat pelayanan penyuluhan adalah di posyandu atau tempat-tempat lain berdasarkan kesepakatan, misalnya puskesmas, puskesmas pembantu, polindes,dll.

  1. Tenaga
Jumlah tenaga  disesuaikan dengan sasaran yang ada. Tenaga pelaksana program pemberantasa penyakit DBD ini terdiri atas tenaga paramedis, non paramedis dan  kader dengan tugas sebagai berikut:
        a.  Tenaga Kesehatan
·         Tenaga paramedis untuk memeriksa kesehatan masyarakat baik penderita DBD maupun yang belum menderita DBD.
·         Tenaga non paramedis untuk mencatat, membantu mengisi  kartu, menyiapkan sarana pelayanan,dll.
b. Kader bertugas:
·         Pendataan sasaran
·         Penyuluhan
·         Menyiapkan tempat pelayanan











VI.   Kegiatan Pokok Program
Untuk mencapai keberhasilan program pemberantasan penyakit DBD dilakuakan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

No
Kegiatan
Minggu
I
II
III
IV
1
Tahap Persiapan (Kewaspadaan Dini)





a.Penyusunan rencana  kerja
ü
-
-
-

b.Mobilisasi  sumber dana
ü
-
-
-

c. Pelatihan
ü




d. Kunjungan rumah
ü
ü
ü
ü

e. Penemuan dan pelaporan penderita
ü
ü
ü
ü

f. Penyuluhan
ü
ü
ü
ü

g.Penggerakan masyarakat
ü
ü
ü
ü
2
Tahap Pelaksanaan (Penanggulangan KLB)





a.Gerakan 3M (PSN-DBD)
ü
ü
ü
ü

b.Fogging
-
-
ü
ü

c.Abatisasi
ü
ü
-
-
3
Pembinaan (Meningkatkan SDM)
ü
ü
ü
ü
4
Monitoring dan Evaluasi
ü
ü
ü
ü

Monitoring dan Evaluasi
·         Pemantauan Kegiatan
Pemantauan dilaksanakan untuk setiap tahap kegiatan sesuai dengan rencana.
1. Pemantauan dilakukan melalui:
~   Sistem pencatatan dan pelaporan program.
~   Unit pengaduan masyarakat.
~   Kunjungan rumah
2. Tindak Lanjut Pemantauan dilakukan melalui:
~   Umpan Balik
~   Supervisi
~   Bimbingan teknis
·         Evaluasi Kegiatan
Evaluasi dilakukan secara bertahap. Evaluasi hasil kegiatan berupa:
a.    jumlah penderita DBD yang diberikan pengobatan dan penyuluhan di desa-desa resiko tinggi.
b.    Jumlah fogging yang dipakai.
c.    Lokasi dan jumlah pos pelayanan.
d.    Masalah pendistribusian bubuk abate.
e.        Masalah-masalah lain.

VII. Anggaran Kegiatan
Sumber dana dari APBN dan APBD.
- Dana dari  APBN berupa  penyedian Fogging dan bubuk Abate.
- Dana dari APBD berupa biaya operasional.yakni:

No.
Biaya Operasional

 Jumlah

1
Biaya Tenaga/ Satuan Output




Rp.50.000 x 15 org x 10 hr/4 mgg

Rp.7.500.000
2
Biaya Transpor/ Satuan Output



Rp.20.000 x 15 org x 10 hr/4 mgg

Rp. 3.000.000         

3
Biaya Snack/ Satuan Output



Rp.15.000 x 15 org  x  10 hr/4 mgg

Rp 2.250.000

4
Biaya tidak tetap/ Satuan Output

Rp.500.000





Biaya Total

Rp.13.250.000


KEGIATAN PEMBERANTASAN PENYAKIT
DEMAM BERDARAH DENGUE

1.    Kunjungan Rumah Secara Berkala
Kunjungan rumah secara berkala dilaksanakan oleh Kader/Dasawisma guna menyampaikan informasi tentang DBD dan pencegahannya kepada keluarga serta melakukan pemeriksaan jentik. Hasil pemeriksaan jentik yang ada disetiap rumah dan pada buku/formulir catatan kader. Selanjutnya, catatan hasil pemeriksaan jentik disampaikan kepada ketua RT yang bersangkutan untuk tindak lanjut sepenuhnya.

2      Penyuluhan Kesehatan
A.   Tujuan
1.      Menyebarluaskan pengetahuan/ pengertian yang tepat dan benar tentang penyakit DBD.
2.      Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit DBD
3.      Meningkatkan kerjasama antar penderita, keluarga, masyarakat dan petugas kesehatan kesehatan tentang penanggulangan penyakit DBD.

B.       Sasaran
1.      Penderita penyakit DBD
2.      Keluarga penderita penyakit DBD
3.      Masyarakat
4.      Petugas kesehatan

C.      Materi-materi penyuluhan
1.  Pengertian DBD
Demam berdarah dengue atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue Famili Flaviviridae, dengan genusnya adalah Flaviirus. (www.Infeksi.com). Demam berdarah merupakan penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh virus, menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan sistem pembekuan darah sehingga mengakibatkan pendarahan.
Demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Agypti, yang ditandai dengan demam mendadak 2-7 hari tanpa penyebab yang jelas, lemah/lesu, gelisah, disertai tanda pendarahan di kulit berupa bintik pendarahan (patechiae), lebam (ecchymosis) atau ruam (purpura).

2.      Penyebab DBD
Penyebab penyakit ini adalah Virus dengue. Virus dengue merupakan virus RNA untai tunggal, genus flavivirus, terdiri dari 4 serotipe yaitu Den-1, 2, 3, dan 4. Struktur antigen ke-4 serotip ini sangat mirip satu dengan yang lain, namun antibody terhadap masing-masing serotip tidak dapat saling memberikan perlindungan silang. Varisai genetic yang berbeda pada ke-4 serotip ini tidak hanya menyangkut antar serotype, tetapi juga dalam seraotip itu sendiri tergantung waktu dan daerah penyebarannya. Pada masing-masing segmen conon, variasi angtara serotipe dapat mencapai 2,6-11% pada tingkat nukleotida ini ternyata menyebabkan variasi dalam sifat biologis dan antigenitasnya. Virus dengue yang genomnya mempunyai berat molekul 11 Kb tersusun dari protein structural merupakan bagian yang terbesar (75%) terdiri dari NS-1 – NS-5. Dalam merangsang pembentukan antibodi diantara protein structural, urutan imunogenitas tertinggi adalah protein E, kemudian diikuti protein prM dan C. sedangkan pada protein non-struktural yang paling berperan adalah protein NS-1.
Demam berdarah ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk betina Aedes yang terinfeksi virus dengue. Penyakit ini tidak dapat ditularkan langsung dari orang ke orang. Penyebar utama virus dengue yaitu nyamuk Aedes aegypti, tidak  ditemukan di Hong Kong, namun virus dengue juga dapat disebarkan oleh spesies lain yaitu Aedes albopictus.



3.      Faktor resiko untuk terjangkit penyakit demam berdarah
     Penularan demqm berdarah dengue dapat terjadi di semua tempat yang terdapat nyamuk penularannya. Oleh karena itu tempat yang berpotensial untuk terjadi penularan DBD adalah:
a.    Wilayah yang banyak kasus DBD (rawan/endemis)
b.    Tempat Umum
Tempat umum merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang dating dari berbagai wilayah sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran beberapa tipe virus dengue cukup besar.
Tempat-tempat umum itu antara lain
1)   Sekolah:
-       Anak/murid sekolah berasal dari berbagai wilayah
-       Merupakan kelompok umur yang paling susceptible untuk terserang penyakit DBD.
2)   RS/Puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan lainnya: Orang datang dari berbagai wilayah dan kemungkinkan diantaranya adalah penderita DBD, demam dengue atau carrier virus dengue.
3)   Tempat umum lainnya seperti: Hotel, pertokoan, pasar, restoran, tempat ibadah, dan lain-lain.
4)   Pemukiman baru di pinggir kota: Karena di lokasi ini, penduduk umumnya berasal dari berbagai wilayah, maka kemugkinan di antaranya terdapat terdapat penderita atau carrier yang membawa virus dengue yang berlainan dari masing-masing lokasi.

4.      Gejala
Gejala pada penyakit demam berdarah diawali dengan :
a.    Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38 ºC- 40 ºC)
b.    Manifestasi pendarahan, dengan bentuk : uji tourniquet positif puspura pendarahan, konjungtiva, epitaksis, melena, dsb.
c.    Hepatomegali (pembesaran hati).
d.   Syok, tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah.
e.    Trombositopeni, pada hari ke 3 - 7 ditemukan penurunan trombosit sampai 100.000 /mm3.
f.     Hemokonsentrasi, meningkatnya nilai Hematokrit.
g.    Gejala-gejala klinik lainnya yang dapat menyertai: anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare kejang dan sakit kepala.
h.    Pendarahan pada hidung dan gusi.
i.      Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah.
Masa inkubasi terjadi selama 4-6 hari.

5.      Penularan
Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti / Aedes albopictus betina yang sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lain. Nyamuk Aedes aegypti berasal dari Brazil dan Ethiopia dan sering menggigit manusia pada waktu pagi dan siang.
Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun, dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh. Penyakit DBD sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan. Virus ini kemungkinan muncul akibat pengaruh musim/alam serta perilaku manusia.

6.      Pencegahan
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu :
a. Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah. Sebagai contoh:
v  Menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu.
v  Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali.
v  Menutup dengan rapat tempat penampungan air.
v  Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan lain sebagainya.

b. Biologis
Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan
jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14).

c. Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain dengan:
~          Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion), berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu.
~          Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.


3 komentar: