Kamis, 18 Oktober 2012

kesehatan mental, normal dan abnormalitas seksual


2.1 Kesehatan Mental
2.1.1 Pengertian Kesehatan Mental
Ilmu kesehatan mental merupakan salah satu cabang termuda dari ilmu jiwa yang tumbuh pada akhir abad ke-19 M dan sudah ada di Jerman sejak tahun 1875 M. pada abad kedua puluh, ilmu ini berkembang dengan pesat, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Menurut Yahya Jaya kesehatan mental adalah .terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, berlandaskan keimanan dan ketaqwaan serta bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dan bahagia di dunia dan akhirat..
Menurut Zakiah Daradjat kesehatan mental adalah .terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychose).
Sedangkan menurut Sururin kesehatan mental adalah .kemampuan untuk menyesuaikan dirinya sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan di mana ia hidup.
Dari pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa kesehatan mental yaitu kemampuan seseorang dalam menyesuaikan dirinya baik dengan orang lain serta dengan lingkungannya dan orang tersebut sehat mentalnya dari gejalagejala kejiwaan dan penyakit jiwa.

2.1.2 Prinsip-prinsip Kesehatan Mental
Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip kesehatan mental adalah dasar yang harus ditegakkan orang dalam dirinya untuk mendapatkan kesehatan mental yang baik serta terhindar dari gangguan kejiwaan. Prinsip-prinsip tersebut menurut Sururin adalah:
a.       Gambaran dan sikap yang baik terhadap diri sendiri
b.      Keterpaduan antara Integrasi diri
c.       Perwujudan Diri (aktualisasi diri)
d.      Berkemampuan menerima orang lain,
e.       Berminat dalam tugas dan pekerjaan
f.       Pengawasan Diri
g.      Rasa benar dan Tanggung jawab.
Secara singkat prinsip-prinsip kesehatan mental tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut:
a. Gambaran dan sikap yang baik terhadap diri sendiri
Prinsip ini biasa diistilahkan dengan self image. Prinsip ini antara lain dapat dicapai dengan penerimaan diri, keyakinan diri dan kepercayaan pada diri sendiri. Self Image yang juga disebut dengan citra diri merupakan salah satu unsur penting dalam pengembangan pribadi.
b. Keterpaduan antara Integrasi diri
Yang dimaksud keterpaduan di sini adalah adanya keseimbangan antara kekuatan-kekuatan jiwa dalam diri, kesatuan pandangan (falsafah) dalam hidup dan kesanggupan menghadapi stress.
c. Perwujudan Diri (aktualisasi diri)
Merupakan proses pematangan diri. Menurut Reiff, orang yang sehat mentalnya adalah orang yang mampu mengaktualisasikan diri atau potensi yang dimiliki, serta memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dengan cara yang baik dan memuaskan.
d. Berkemampuan menerima orang lain, melakukan aktivitas sosial dan menyesuaikan diri dengan lingkungan setempat. Untuk dapat penyesuaian diri yang sukses dalam kehidupan, minimal orang harus memiliki kemampuan dan keterampilan, mempunyai hubungan yang erat dengan orang yang mempunyai otoritas dan mempunyai hubungan yang erat dengan teman-teman.
e. Berminat dalam tugas dan pekerjaan
Orang yang menyukai terhadap pekerjaan walaupaun berat maka akan cepat selasai daripada pekerjaan yang ringan tetapi tidak diminatinya.
f. Pengawasan Diri
Mengadakan pengawasan terhadap hawa nafsu atau dorongan keinginan serta kebutuhan oleh akal pikiran merupakan hal pokok dari kehidupan orang dewasa yang bermental sehat dan kepribadian normal, karena dengan pengawasan tersebut orang mampu membimbing segala tingkah lakunya.
g. Rasa benar dan Tanggung jawab
Rasa benar dan tanggung jawab penting bagi tingkah laku, karena setiap individu ingin bebas dari rasa dosa, salah dan kecewa. Rasa benar, tanggung jawab dan sukses adalah keinginan setiap orang yang sehat mentalnya.

2.1.3 Penyakit-penyakit Mental dan Faktor-faktor Penyebabnya
Menurut Zakiah Daradjat, keabnormalan dapat dibagi atas dua golongan yaitu: gangguan jiwa (neurose) dan sakit jiwa (psychose). Namun ada perbedaan antara neurose dan psychose. Orang yang terkena neurose, masih  bisa mengetahui dan merasakan kesukaran, sebaliknya yang kena psychose tidak.
Macam-macam neurosis di antaranya adalah
a.      Neurasthenia
b.      Histeria
c.       Psychastenia.
Secara singkat macam-macam neurose tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Neurasthenia
Penyakit Neurasthenia adalah penyakit payah. Orang yang diserang akan merasa antara lain: Seluruh badan letih, tidak bersemangat, lekas merasa payah, walupun sedikit tenaga yang dikelaurkan. Para ahli menyebutkan penyebab penyakit ini antara lain: karena terlalu sering melakukan onani (masturbasi), terlalu lama menekan perasaan, pertentangan batin, kecemasan, terlalu banyak mengalami kegagalan hidup.
b. Histeria
Histeria terjadi akibat ketidak mampuan seseorang menghadapi kesukaran-kesukaran, tekanan perasaan, kegelisahan, kecemasan dan pertentangan batin.
Macam-macam Histeria: 
1.      Lumpuh Histeria: kelumpuhan salah satu anggota fisik. Penyebab hysteria ini adalah adanya tekanan pertentangan batin yang tidak dapat diatasi.
2.      Cramp Histeria: Cramp yang terjadi pada sebagian anggota fisik. Penyebab dari hysteria ini adanya tekanan perasaan, kegelisahan, kecemasan yang dirasakan akibat kebosanan menghadapi pekerjaan-pekerjaannya.
3.      Kejang Histeria: yaitu badan seluruhnya menjadi kaku, tidak sadar akan diri, kadang-kadang sangat keras disertai dengan teriakan-teriakan dan keluhan-keluhan tetapi air mata tidak keluar.Penyebabnya adalah emosi sangat tertekan, seperti tersinggung, sedih, dan rasa penyesalan.
c. Psychastenia
Psychastenia adalah semacam gangguan jiwa yang bersifat paksaan, yang berarti kurangnya kemampuan jiwa untuk tetap dalam keadaan integrasi yang normal. Gejala-gejala penyakit ini adalah:
1.      Phobia yaitu rasa takut yang tidak masuk akal. Kadang-kadang rasa takut yang tidak masuk akal itu menyebabkan tertawaan orang sehingga ia makin merasa cemas.
2.      Obsesi yaitu gejala gangguan jiwa, di mana si sakit dikuasai oleh pikiran yang tidak bisa dihindari.
3.      Kompulsi yaitu gangguan jiwa, yang menyebabkan melakukan sesuatu, baik masuk akal ataupun tindakan itu tidak dilakukannya, maka si penderita akan merasa gelisah dan cemas. Kegelisahan atau kecemasan itu baru hilang apabila tindakan itu dilakukan.
Sedangkan macam-macam Psychose antara lain:
a.      Schizophrenia
b.      Paranoia
c.       Manicdepressive.
Secara singkat macam-macam psychose tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Schizophrenia
adalah penyakit jiwa yang paling banyak terjadi dibandingkan dengan penyakit jiwa lainnya, penyakit ini menyebabkan kemunduran kepribadian pada umumnya, yang biasanya mulai tampak pada masa puber. Gejala-gejala Skizoprenia yang penting antara lain:
1.      Dingin perasaan, tak ada perhatian pada apa yang terjadi disekitarnya.
2.      Banyak tenggelam dalam lamunan yang jauh dari kenyataan
3.      Mempunyai prasangka-prasangka yang tidak benar dan tidak Beralasan
4.      Sering terjadi salah tanggapan atau terhentinya pikiran atau juga pembicaraannya tidak jelas ujung pangkalnya
5.      Halusinasi pendengaran, penglihatan atau penciuman, di mana si penderita seolah-olah mendengar, mencium atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
6.      Si sakit banyak putus asa dan merasa bahwa ia adalah korban kejahatan orang banyak atau masyarakat
7.      Keinginan menjauhkan diri dari masyarakat, tidak mau bertemu orang lain.

b. Paranoia
adalah penyakit .gila kebesaran., atau .gila menuduh orang. Penyakit ini tidak banyak terjadi, kadang-kadang hanya satu atau dua orang saja yang terdapat menjadi penghuni dari salah satu rumah sakit jiwa. Biasanya penyakit ini mulai menyerang orang sekitar umur 40 tahun. Di antara ciri-ciri khas penyakit ini adalah delusi, yaitu satu pikiran salah yang menguasai orang yang diserangnya.

c. Manicdepressive
Penyakit ini dinamakan juga .gila kumat-kumatan. di mana penderita mengalami rasa besar/gembira yang kemudian berubah menjadi sedih/tertekan.
Menurut Zakiah Daradjat, gangguan kesehatan mental dapat mempengaruhi:
a.    Perasaan; misalnya cemas, takut, iri-dengki, sedih tak beralasan, marah oleh hal-hal remeh, bimbang, merasa diri rendah, sombong, tertekan (frustasi), pesimis, putus asa dan apatis.
b.    Pikiran; kemampuan berpikir kurang, sukar memusatkan perhatian, mudah lupa, tidak dapat melanjutkan rencana yang telah dibuat.
c.    Kelakuan; nakal, pendusta, menganiaya diri atau orang lain, menyakiti badan orang atau dirinya dan berbagai kelakuan menyimpang lainnya.
d.   Kesehatan tubuh; penyakit jasmani yang tidak disebabkan oleh gangguan pada jasmani.

Dari penjelasan di atas penulis memberi kesimpulan bahwa semua  penyakit jiwa dan gangguan jiwa disebabkan karena perasaan tertekanan yang tidak bisa dihindari oleh si penderita, sehingga perasaan itu terusmenerus ia simpan yang akhirnya menyebabkan si penderita pesimis dan hilang akal untuk mengontrol dirinya.

2.1.4 Tanda-tanda Mental Sehat
Dari World Health Organization (WHO) .Bagian Jiwa. telah menetapkan ciri-ciri Mental Health seseorang. Adapun ciri-ciri mental sehat tersebut adalah:
a.         Adjustment (Penyesuaian diri).
b.         Integrated Personality (Kepribadian utuh/kokoh).
c.         Free of the Senses of Frustration, Confict, Anxiety, and Depression (Bebas dari rasa gagal, pertentangan batin, kecemasan dan tekanan).
d.        Normatif, semua sikap dan tingkah laku yang dilahirkannya tidak ada yang lolos dari jaringan Niai/Adat/Agama/Peraturan/UU.
e.         Responsibility (Bertanggung Jawab).
f.          Maturity (Kematangan), terdapatnya kematangan dalam melakukan suatu sikap dan tingkah laku-tingkah laku itu dijalankan penuh pertimbangan.
g.         Otonomi (Berdiri Sendiri), selalu bersifat mandiri atas segala tugas tugas atau kewajiban yang menjadi bebannya, tanpa suka memikul bebannya kepada orang lain dalam kondisi yang tidak terpaksa.
h.         Well Decision Making (Pengambil Keputusan yang Baik).
Sedangkan di dalam bukunya Dadang Hawari, kriteria jiwa atau mental yang sehat adalah:
a.         Dapat menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan, meskipun kenyataan itu buruk baginya.
b.         Memperoleh kepuasan dari hasil jerih payah usahanya.
c.         Merasa lebih puas memberi daripada menerima
d.        Secara relatif bebas dari rasa tegang dan cemas.
e.         Berhubungan dengan orang secara tolong-menolong dan saling memuaskan
f.          Menerima kekecewaan untuk dipakainya sehingga sebagai pelajaran untuk dikemudian hari
g.         Menjuruskan rasa permusuhan lepada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif
h.         Mempunyai rasa kasih sayang yang besar.
Sedangkan di dalam bukunya Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, tanda-tanda kesehatan mental adalah .adanya perasaan cinta. Cinta dianggap sebagai tanda kesehatan mental sebab cinta menunjukkan diri positif. Cinta mendorong individu untuk hidup berdamai, rukun, saling kasih-mengasih, dan menjauhkan dari kebencian, dendam, permusuhan, dan pertikaian.
Jika dilihat dari pendapat para ahli yang dijelaskan di atas, nampak saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Tetapi penulis memilih pendapat dari Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir karena dengan adanya rasa cinta di antara manusia, maka akan timbul rasa saling menyayangi, perdamaian, saling menghormati sesama manusia. Sehingga tidak ada rasa dendam ataupun iri hati yang bisa menyebabkan seseorang tertekan perasaannya karena di benci oleh orang lain.

2.2 Konsep Normal di Masyarakat
2.2.1 Pengertian Tingkah Laku Normal
            Tingkah laku normal ialah tingkah laku yang adekwat (serasi, tepat) yang bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya.  Tingkah laku pribadi yang normal ialah perilaku yang sesuai dengan pola kelompok masyarakat tempat dimana ia berada; sesuai pula dengan norma-norma sosial yang berlaku pada saat dan tempat itu, sehingga tercapai relasi personal dan interpersonal yang memuaskan.

2.2.2 Kriteria Pribadi Normal
1.   Menurut Maslow dan Mittelmann
Maslow dan Mittelmann  menyatakan bahwa pribadi yang normal dengan jiwa yang sehat ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut.
a.         Memiliki rasa aman yang tepat (sense of security)
b.        Memiliki penilaian diri (self evaluation) dan wawasan (insight) yang rasional.
c.         Memiliki spontanitas dan emosional yang tepat.
d.        Memiliki kontak dengan realitas secara efisien.
e.         Memiliki dorongan-dorongan dan nafsu-nafsu yang sehat.
f.         Memiliki pengetahuan mengenai dirinya secara objektif.
g.        Memiliki tujuan hidup yang adekuat, tujuan hidup yang realistis, yang didukung oleh potensi.
h.        Mampu belajar dari pengalaman hidupnya.
i.          Sanggup untuk memenuhi tuntutan-tuntutan kelompoknya.
j.          Ada sikap emansipasi yang sehat pada kelompoknya.
k.        Kepribadiannya terintegrasi

2.    Kriteria Pribadi yang normal menurut W.F. Maramis.
Menurut Maramis,  terdapat enam kelompok sifat yang dapat dipakai untuk menentukan ciri-ciri pribadi yang  Sehat-Normal, adalah sebagai berikut :
a.         Sikap terhadap diri sendiri : menerima dirinya sendiri, identitas diri yang memadai, serta  penilaian yang realistis terhadap kemampuannya.
b.        Cerapan (persepsi) terhadap kenyataan : mempunyai pandangan yang realistis tentang diri   sendiri dan lingkungannya.
c.         Integrasi: kesatuan kepribadian, bebas dari konflik pribadi yang melumpuhkan dan memiliki
d.        daya tahan yang baik terhadap  stres.
e.         Kemampuan : memiliki kemampuan dasar secara fisik, intelektual, emosional, dan sosial
f.         sehingga mampu mengatasi berbagai masalah.
g.        Otonomi : memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang memadai, bertanggung jawab, mampu mengarahkan dirinya pada tujuan hidup.
h.        Perkembangan dan perwujudan dirinya : kecenderungan pada kematangan yang makin tinggi.
2.2.3. Penyesuaian Yang Normal (Well Adjusment)
            Seseorang dapat dikatakan memiliki penyesuaian diri yang normal, yang baik, apabila dia mampu memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalahnya secara wajar, tidak merugikan diri sendiri dan lingkungannya, serta sesuai dengan norma agama. Penyesuaian yang normal ini memiliki karakteristik sebagai berikut (Schneiders, 1964: 2740276)
1.        Absence of excessive emotionality (terhindar dari ekspresi emosi yang berlebihan, merugikan, tidak mampu mengontrol diri)
2.        Absence of psychological mechanisme (terhindar dari mekanisme-mekanisme psikologis, seperti rasionalisasi, agresi, kompensasi, dsb)
3.        Absence of the sense of personal frustration (terhindar dari perasaan frustasi atau kecewa karena tidak terpenuhinya kebutuhannya)
4.        Rational deliberation and self-direction (memiliki pertimbangan rasional, yaitu mampu memecahkan masalah berdasarkan pertimbangan yang matang dan mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang diambil)
5.        Ability to learn (mampu belajar, mampu mengembangkan dirinya dalam upaya memenuhi kebutuhan atau mengatasi masalah)
6.        Utilization of past experience (mampu memanfaatkan pengalaman masa lalu, bercermin ke masa lalu baik yang terkait dengan keberhasilan maupun kegagalan untuk mengembangkan kualitas hidup yang lebih baik)
7.        Realistic, objective attitude (mampu menerima kenyataan yang dihadapi secara wajar, mampu menghindari, merespon situasi atau masalah secara rasional, tidak didasari oleh prasangka buruk)
2.3 Konsep Abnormal
2.3.1 Pengertian Abnormal
Abnormal artinya menyimpang dari yang normal. Yang normal itu yang bagaimana? Bilamana gejala jiwa atau perilaku dinyatakan normal? Pertanyaan tersebut tidak mudah untuk dijawab sebab manusia merupakan makhluk multi dimensional. Manusia merupakan makhluk biologis, makhluk individu, makhluk sosial, makhluk etis, dst, sehingga perilaku manusia dapat dijelaskan dari dimensi-dimensi tersebut, begitu juga bila berbicara mengenai abnormalitas jiwa.
Menurut James W. Van Der Zanden, Penyimpangan perilaku adalah perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan diluar batas toleransi. Sedangkan Robert M. Z. Lawang berpendapat bahwa perilaku menyimpang adalah semua perilaku yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam system sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam system itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang.
2.3.2 Kriteria Abnormal
a.    Abnormalitas menurut  Konsepsi  Statistik
Secara statistik suatu gejala dinyatakan sebagai abnormal bila menyimpang dari mayoritas. Dengan demikian seorang yang jenius sama- sama abnormalnya dengan seorang idiot, seorang yang jujur menjadi abnormal diantara komunitas orang yang tidak jujur.
      b.   Abnormal  menurut  Konsepsi  Patologis
Berdasarkan konsepsi ini tingkah laku individu dinyatakan tidak normal bila terdapat simptom-simptom (tanda-tanda) klinis tertentu, misalnya ilusi, halusinasi, obsesi, fobia, dst. Sebaliknya individu yang tingkah lakunya tidak menunjukkan adanya simptom-simptom tersebut adalah individu yang normal.
     c.     Abnormal  menurut  Konsepsi Penyesuaian Pribadi
Menurut konsepsi ini seseorang dinyatakan penyesuaiannya baik bila yang bersangkutan mampu menangani setiap masalah yang dihadapinya dengan berhasil. Dan hal itu menunjukkan bahwa dirinya memiliki jiwa yang normal. Tetapi bila dalam menghadapi masalah dirinya menunjukkan kecemasan, kesedihan, ketakutan, dst. yang pada akhirnya masalah tidak terpecahkan, maka dikatakan bahwa penyesuaian pribadinya tidak baik, sehingga dinyatakan jiwanya tidak normal.
     d.    Abnormal menurut  Konsepsi Penderitaan/tekanan  Pribadi
Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu.
·         Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan.
·         Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit karena disuntik.
·         Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan standar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan secara umum.
     e.     Perilaku berbahaya
Perilaku yang menimbulkan bahaya bagi orang itu sendiri ataupun orang lain dapat dikatakan abnormal.

     f.     Abnormalitas  menurut  Konsepsi  Sosio-kultural
Menurut konsepsi ini seseorang dinyatakan penyesuaiannya baik bila yang bersangkutan mampu menangani setiap masalah yang dihadapinya dengan berhasil. Dan hal itu menunjukkan bahwa dirinya memiliki jiwa yang normal. Tetapi bila dalam menghadapi maslah dirinya menunjukkan kecemasan, kesedihan, ketakutan, dst. yang pada akhirnya masalah tidak terpecahkan, maka dikatakan bahwa penyesuaian pribadinya tidak baik, sehingga dinyatakan jiwanya tidak normal
     g.    Abnormalitas menurut  Konsepsi Kematangan  Pribadi
Menurut konsepsi kematangan pribadi, seseorang dinyatakan normal jiwanya bila dirinya telah menunjukkan kematangan pribadinya, yaitu bila dirinya mampu berperilaku sesuai dengan tingkat perkembangannya.
     h.    Disability (tidak stabil)
·         Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan.
·         Tidak begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability. Misalnya seseorang yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme (mendapatkan kepuasan seksual dengan cara mengintip orang lain telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami disability dalam masalah seksual.

Dari semua kriteria di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun kriteria yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya kriteria tersebut berusaha untuk dapat menentukan definisi perilaku abnormal. Dan adanya kriteria pertimbangan sosial menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan dipengaruhi oleh budaya serta waktu.

2.3.3 Konsep Perilaku Menyimpang
            Menurut Lemmet (1951) terdapat dua konsep perilaku menyimpang, sebagai berikut:
a.       Penyimpangan primer, yaitu penyimpangan bersifat sementara atau perbuatan yang pertama kali dilakukan seseorang dimana pada aspek kehidupan lainnya selalu berlaku konformasi (mematuhi norma yang berlaku). Contoh; pelanggaran rambu-rambu lalu lintas, ngebut di jalan.,dll.
b.      Penyimpangan sekunder, yaitu penyimpangan sosial yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sanksi telah di berikan kepadanya, sehingga para pelakunya secara umum di kenal sebagai orang yang berperilaku menyimpang. Contoh : pembunuhan, pemerkosaan, dll.

2.3.4 Dampak Penyimpangan Sosial terhadap Diri sendiri/ Individu
·         Terkucil
·         Terganggu perkembangan jiwa
·         Merasa bersalah

2.3.5 Dampak Penyimpangan Sosial terhadap Masyarakat
·         Kriminalitas
·         Terganggu keseimbangan sosial
·         Pudarnya nilai dan norma



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar