Rabu, 07 November 2012

TEORI PERUBAHAN PERILAKU


BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
Perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan respon. Perilaku tersebut dibagi lagi dalam 3 domain yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Kognitif diukur dari pengetahuan, afektif dari sikap psikomotor dan tindakan (ketrampilan).
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman, selain guru, orang tua, teman, Perubahan perilaku dalam diri seseorang dapat terjadi melalui proses belajar.
Belajar diartikan sebagai proses perubahan perilaku yang didasari oleh perilaku terdahulu.Dalam proses belajar ada tiga unsur pokok yang saling berkaitan yaitu masukan (input), proses, dan keluaran (output. lndividu atau masyarakat dapat merubah perilakunya bila dipahami faktor-faktor yang berpengaruh terhadap berlangsungnya dan berubahnya perilaku tersebut. Ada beberapa hal yang mempengaruhi perilaku seseorang, sebagian terletak di dalam individu sendiri yang disebut faktor intern dan sebagian terletak diluar dirinya yang disebut faktor ekstern, yaitu faktor lingkungan.
Faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku adalah perilaku itu sendiri yang dipengaruhi oleh karakteristik individu, penilaian individu terhadap perubahan yang di tawarkan, interaksi dengan petugas kesehatan yang merekomendasikan perubahan perilaku, dan pengalaman mencoba merubah perilaku yang serupa.
                                                    
1.2       Rumusan Masalah
1.        Bagaimana definisi perilaku ?
2.        Menjelaskan perubahan perilaku ?
3.        Bagaimana bentuk-bentuk perubahan perilaku ?
4.        Menjelaskan faktor pembentuk perilaku ?

1.3       Tujuan
1.        Untuk mengetahui definisi perilaku.
2.        Untuk mengetahui perubahan perilaku.
3.        Untuk mengetahui bentuk-bentuk perubahan perilaku.
4.        Untuk mengetahui faktor pembentuk perilaku.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Definisi
Perilaku dari pandangan biologis adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan. Jadi, perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, perilaku manusia itu mempunyai bentangan yang sangat luas, mencakup: berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian, dan sebagainya. Bahkan kegiatan internal (internal activity) seperti berpikir, persepsi dan emosi juga merupakan perilaku manusia. Untuk kepentingan kerangka analisis dapat dikatakan bahwa perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut, baik dapat diamati secara langsung atau secara tidak langsung.
Perilaku dan gejala perilaku yang tampak pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi baik oleh faktor genetik (keturunan) dan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor genetik dan lingkungan ini merupakan penentu dari perilaku makhluk hidup termasuk perilaku manusia. Hereditas atau faktor keturunan adalah konsepsi dasar atau modal untuk perkembangan  perilaku makhluk hidup itu untuk selanjutnya. Sedangkan lingkungan adalah kondisi atau lahan untuk perkembangan perilaku tersebut.

Health belief Model didasarkan atas 3 faktor esensial :
1.        Kesiapan individu intuk merubah perilaku dalam rangka menghindari suatu penyakit atau memperkecil risiko kesehatan.
2.        Adanya dorongan dalam lingkungan individu yang membuatnya merubah perilaku.
3.        Perilaku itu sendiri.
Ketiga faktor diatas dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kepribadian dan lingkungan individu, serta pengalaman berhubungan dengan sarana dan petugas kesehatan. Kesiapan individu dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti persepsi tentang kerentanan terhadap penyakit, potensi ancaman, motivasi untuk memperkecil kerentanan terhadap penyakit, potensi ancaman, dan adanya kepercayaan bahwa perubahan perilaku akan memberikan keuntungan.

2.2       Perubahan Perilaku
Hal yang penting dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan perubahan perilaku. Karena perubahan perilaku merupakan tujuan dari pendidikan atau penyuluhan kesehatan sebagai penunjang program-program kesehatan yang lainnya, banyak teori tentang perubahan perilaku.
1.        Teori Stimulus-Organisme-Respon (S-O-R)
Teori ini mendasarkan asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung pada kualitas rangsangan (stimulus) yang berkomunikasi dengan organisme. Artinya kualitas dari sumber komunikasi (sources).
Proses perubahan perilaku pada hakikatnya adalah sama dengan belajar, proses tersebut menggambarkan bagaimana belajar pada individu yang terdiri dari :
a.         Stimulus (rangsangan) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak.
b.         Apabila stimulus telah mendapat perhatian organisme (diterima) maka ia mengerti stimulus ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya.
c.          Setelah itu organisme mengelolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan untuk bertindak demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap).
d.         Akhirnya dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka stimulus tersebut mempunya efek tindakan dari individu tersebut (perubahan perilaku).
Perubahan perilaku didasari oleh: Stimulus-Organisme-Respons.
a.         Perubahan perilaku terjadi dengan cara meningkatkan atau memperbanyak rangsangan (stimulus).
b.         Oleh sebab itu perubahan perilaku terjadi melalui proses pembelajaran (learning process).
c.          Materi pembelajaran adalah stimulus.

Perubahan perilaku berdasarkan teori S-O-R dapat di gambarkan sebagai berikut :
Teori S-O-R










Text Box: Stimulus










Text Box: Reaksi Terbuka
(perubahan praktik)
 










2.        Teori Festinger (Dissonance Theory)
Perilaku seseorang pada saat tertentu karena adanya keseimbangan antara sebab atau alasan dan akibat atau keputusan yang diambil (conssonance). Apabila terjadi stimulus dari luar yang lebih kuat, maka dalam diri orang tersebut akan terjadi ketidak seimbangan (dissonance).
Kalau akhirnya stilmulus tersebut direspons positif (menerimanya dan melakukannya) maka berarti terjadi perilaku baru (hasil perubahan), dan akhirnya kembali terjadi keseimbangan lagi (conssonance).

Rumus perubahan perilaku menurut Festinger:
Terjadinya perubahan perilaku karena adanya perbedaan elemen kognitif yang seimbang dengan elemen tidak seimbang.
Contoh: Seorang ibu hamil memeriksakan kehamilannya terjadi karena ketidak seimbangan antara keuntungan dan kerugian stimulus (anjuran perikasa hamil).

3.        Teori Fungsi
Teori ini berdasarkan anggapan bahwa perubahan perilaku individu terjadi karena adanya kebutuhan. Hal ini berarti bahwa stimulus yang dapat mengakibatkan perubahan perilaku seseorang apabila stimulus tersebut dapat mengerti dalam konteks kebutuhan orang tersebut. Oleh sebab itu stimulus atau obyek perilaku harus sesuai dengan kebutuhan orang (subyek).
Prinsip teori fungsi yakni:
a.         Perilaku merupakan fungsi instrumental (memenuhi kebutuhan subyek).
b.         Perilaku merupakan pertahanan diri dalam mengahadapi lingkungan (bila hujan, panas).
c.          Perilaku sebagai penerima obyek dan memberikan arti (respons terhadap gejala sosial).
d.         Perilaku berfungsi sebagai nilai ekspresif dari diri seseorang dalam menjawab situasi (marah, senang).



4.        Teori Kurt Lewis
Kurt Lewin (1970) berpendapat bahwa perilaku adalah merupakan suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan pendorong (driving forces) dan kekuatan penahan (restraining forces). Perubahan perilaku itu dapat berubah apabila terjadi  ketidakseimbangan antara kedua kekuatan tersebut.
Sehingga ada tiga kemungkinan terjadinya perubahan perilaku pada diri seseorang yakni :
a.         Kekuatan pendorong meningkat, kekuatan penahan tetap.
b.         Kekuatan pendorong tetap, kekuatan penahan menurun.
c.          Kekuatan pendorong meningkat, kekuatan penahan menurun.

2.3       Bentuk-Bentuk Perubahan Perilaku
a.         Perubahan alamiah (natural change): Perubahan perilaku karena terjadi perubahan alam (lingkungan) secara alamiah.
b.        Perubahan terencana (planned change): Perubahan perilaku karena memang direncanakan oleh yang bersangkutan.
c.         Kesiapan berubah (readiness to change): Perubahan perilaku karena terjadinya proses internal (readiness) pada diri yang bersangkutan, dimana proses internal ini berbeda pada setiap individu.

2.4       Faktor Pembentuk Perilaku
Prilaku dibentuk oleh 3 faktor antara lain :
a.       Faktor-faktor predisposisi (predisposing factors) yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, dan sebagainya.
b.      Faktor-faktor pendukung (enebling factors), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi, jamban, dan sebagainya.
c.       Faktor-faktor pendorong (renforcing factors), yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

Berdasarkan 3 faktor determinan perilaku tersebut, maka kegiatan promosi kesehatan sebagai pendekatan perilaku hendaknya diarajkan kepada 3 faktor tersebut:
a.         Kegiatan promosi kesehatan yang ditujukan kepaada faktor predisposisi adalah pemberian informasi atau pesan kesehatan dan penyuluhan kesehatan.
b.        Kegiatan promosi kesehatan yang ditujukan kepada faktor pemungkin (enabling) adalah memberdayakan masyarakat melalui pengorganisasian atau pengembangan masyarakat.
c.         Kegiatan promosi kesehatan yang ditujukan kepada faktor penguat (reinforcing) adalah berupa pelatihan-pelatihan kepada para tokoh masyarakat, baik formal maupun non formal.




BAB III
PENUTUP

3.1       Kesimpulan
Perilaku dari pandangan biologis adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan. Perilaku dan gejala perilaku yang tampak pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi baik oleh faktor genetik (keturunan) dan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor genetik dan lingkungan ini merupakan penentu dari perilaku makhluk hidup termasuk perilaku manusia.
Prilaku dibentuk oleh 3 faktor antara lain :
a.       Faktor-faktor predisposisi (predisposing factors) yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, dan sebagainya.
b.      Faktor-faktor pendukung (enebling factors), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi, jamban, dan sebagainya.
c.       Faktor-faktor pendorong (renforcing factors), yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

3.2       Saran
Berbagai sumber telah dikumpul sebanyak-banyaknya demi terselesaikannya makalah ini. Namun, sebagai manusia biasa yang membutuhkan bantuan orang lain, penulis mengaharapkan dukungan baik dalam bentuk kritik dan saran, semoga dengan itu semua dapat membuat makalah ini semakin baik dan berguna bagi semua orang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar